Sabtu, 12 April 2008

MISIONARIS YANG MENGHIDUPKAN DIALOG PROFETIS (Dialog Profetis Dalam Konteks Pembinaan Untuk Misi dan Dunia)

Catatan: Makalah ini Diketik ulang oleh Blasius Baene

I. Pengantar

Menjadi misionaris yang siap dikirim ke semua sudut dunia mengandaikan adanya kemungkinan seseorang akan menghadapi beraneka kebudayaan, kepercayaan, dan cara pandang yang amat berbeda dengan apa yang dia miliki. Dalam situasi yang demikian, bagaimana seorang misionaris harus bersikap dalam terang Ad Gentes? Apa yang perlu dibina, atau apa yang perlu ditanamkan dalam diri calon-calon misionaris agar mereka dapat mengembangkan sebuah dialog profetis di manapun mereka ditempatkan.

Kami mengajak para calon misionaris ini bekajar dari wanita Kanaan yang dikisahkan dalam Mat. 15:21-28. Wanita Kanaan ini bukanlah seorang misionaris, tetapi dia menunjukkan kepada kita apa itu udialog profetis dan apa yang diperlukan seorang misionaris untuk menghidupinya. Seorang misionaris haruslah seorang yang berpengetahuan dan berwawasan luas. Selain itu, dia perlu rendah hati dan terbuka. Hal ini amat dibutuhkan untuk menghantar dirinya dan partner dialognya kepada perubahan menuju ke kebenaran dan kepada keberanian untuk menegakkan kebenaran. Selain itu, dia pun harus memiliki kematangan pribadi dan kematangan iman yang didasari oleh pengalaman akan Allah dan gambaran Allah yang benar.

II. Wanita Kanaan Teladan Berdialog Profetis

Ketika Yesus tiba di perbatasan memasuki wilayah Tirus dan Sidon, “keluarlah dari perbatasan” seorang perempuan Kanaan memohon kepadanya agar anaknya disembuhkan (pernyataan ini berbeda dengan Mrk. 7:24 yan gmengatakan bahwa Yesus memasuki sebuah rumah di Tirus untuk merahasiakan kedatangan-Nya). Wanita Kanaan ini berani keluar dari batas-batas pemisah wilayahnya dan masuk ke wilayah orang Yahudi. Dia tidak mau menajdi seperti katak di bawah tempurung, melainkan berinisiatif untuk keluar dari sangkar yang membatasi ruang geraknya untuk memperoleh suatu yang amat berharga: kesehatan anaknya. Usaha wanita ini tidaklah ringan, karena seperti diungkapkan oleh pemakaian kata “єқραζєυ” (ekrazen), bentuk imperfek dari “қράζω” (krazo sama dengan berteriak), wanita ini harus berteriak-teriak untuk mendapat perhatian Yesus (Haguer, 1995:441). Demikian, untuk menciptakan dialog profetis orang harus berani keluar dari dirinya, dari lingkungannya dan menjumpai orang lain.

Dialog profetis mengandaikan pengetahuan yang luas agar seseorang tidak gampang termakan oleh emosi akibat pemikiran yan picik. Modal ini dimiliki oleh wanita Kanaan. Ketika Yesus secara sinis menganggapi permohonannya dengan berkata bahwa ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari Israel (Mat. 15:24), ia tidak menyangkalnya. Tampaknya ia mengetahui konsep keselamatan yang eksklusif dalam bangsa Yahudi (Tentang konsep keselamatan yang eksklusif dalam bangsa Yahudi, lihat tulisan saya “Orang Diluar Gereja Menjadi Model Pemuridan,” Perspektif 2007).

Wanita Kanaan itu pun tidak putus asa dan mengundurkan diri meninggalkan Yesus, melainkan ia menyembah Yesus sambil terus memohon: “Tuhan, tolonglah aku” (ay. 25). Ia yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang dapat menyembuhkan anaknya. Meskipun kemudian permohonannya sepertinya kembali ditolak oleh Yesus secara kasar (Mat. 15:26), ia tidak tersinggung dan marah. Kepandaian dan luasnya wawasannya membuat ia tidak gampang putus asa. Ia tidak menentang apa yang Yesus katakan melainkan mencari celah untuk mencapai tujuannya. “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yan gjatuh dari meja tuannya” (Mat. 15:27). Ia tidak menuntut atau mengklaim bahwa ia pun berhak seperti orang Israel, melainkan hanya meminta “remah-remah” karena ia sadar bahwa soal menerima berkat itu tergantung pada belaskasihan Tuhan. Wanita ini tahu bahwa orang non Yahudi dibedakan dengan orang Yahudi seperti “anjing” dengan anak-anak atau tuan. Anak-anaklah yang pertama mendapatkan makanan, baru kalau mereka sudah kenyang (cukup) makanan diberikan kepada anjing. Jadi, ini hanya soal urutan waktu, bukan soal kualitas keselamatan. Israel lebih dulu ditawari keselamatan, selanjutnya barulah orang non Yahudi.

III. Iman dan Kerendahan Hati

Di awal dialog wanita Kanaan menyapa Yesus dengan “Tuhan,” “Anak Daud” (Mat. 15:23), suatu sebutan yang dipakai oleh orang yang mengenal Yesus sebagai Mesias. Sebutan ini mengandung suatu pengakuan akan ketertundukan kepada otoritas Yesus. Wanita Kanaan menerima statusnya sebagai anjing, sebagai yang hina. Penerimaan ini mengungkapkan kerendahan hatinya, pertanda bahwa ia miskin dalam roh, yakni mengakui bahwa keselamatannya (anjing) sepenuhnya tergantung pada tuannya dan anak-anak tuannya. Buikankah ini persyaratan yang diperlukan untuk menjadi murid yang sejati dan anak-anak Kerajaan Allah. Maka tepat apa yang diaktakan oleh David Hill, bahwa wanita ini berhasil meraih apa yang dia inginkan dari Yesus bukan karena pemahamannya tentang kemesiasan, tetapi karena besarnya imannya dan kerendahan hatinya (Hill, 1972:254).

3.1. Apa itu Iman

Kata iman merupakan terjemahan dari kata Ibrani אמן (áman), yang memiliki beberapa arti seperti menopang hidup, memberi makan, pilar, jenang pintu, mengkohkan, membuat pasti, mengukuhkan, bisa dipercaya, dan percaya (BDB, 592). Makna dasar kata ini adalah suatu tindakan mealu tonggak utama tenda hingga tertancap kuat di tanah dan tenda pun bisa didirikan. Percaya atau memiliki iman hanyalah makan lain dari kata itu yang mungkin ada kaitannya dengan unsur kukuh, memiliki pegangan kuat. Dengan kata lain, memiliki iman seperti menancapkan tonggak utama tenda kehidupan kita pada cadas yang kuat, yang bagi kita orang Kristen ialah Yesus Kristus. Beriman berarti menerima bahwa Allahlah yang menempati tempat pertama dalam hidup kita. Dialah tonggak utama dalam hidup kita. Kita mengenal-Nya sebagai Tuhan, memberi kesaksian tentang Dia, mengasihi-Nya dan mengakui-Nya sebagai Dia yang kepada-Nya kita mempercayakan diri kita secara buta, total. Beriman berarti mempercayakan dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Kita bersandar kepada Allah, dan Allah mengangkat atau mendirikan hidup kita dan melindunginya.

Mempercayakan diri secara buta kepada Allah, seperti apa yang dibuat Abraham misalnya (lih. Kej. 12), bukan berarti percaya begitu saja tanpa mau tahu, tanpa memakai pikiran dan logika. Iman dan rasio berjalan bersama dan saling melengkapi. Beriman tidak berarti menutup mata, melainkan mencari tahu meskipun kita mengetahui bahwa iman merupakan sebuah perjalanan dalam kegelapan. Iman lebih merupakan sebuah penderitaan karena harus memiliki kebimbangan dan bukan ketentraman. Memang dalam beriman orang dapat terjerumus ke dalam keraguan dan ketakutan. Seperti yang terjadi dengan Maria. Maria menderita dalam pertemuannya dengan Allah. Dia tidak memahami, maka dia meminta penjelasannya: Mengapa? Apa mungkin? Ketika kesulitan memahami pesan malaikat, Maria bertanya, berdiskusi dengna Allah. Ia minta penjelasan. Itulah beriman. Beriman tidak berarti menundukkan kepala, apalagi menyembunyikan diri karena takut akan Allah seperti yang dilakukan Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa. Beriman berarti mencoba memahami perilaku Allah untuk dapat menerimanya dengan penuh tanggungjawab. Maria telah dibebaskan dari ketakutan dan keraguan ini karena ia tahu berdialog dengan Allah. Sebaliknya, Adam dan Hawa telah tenggelam dalam ketakutan karena mereka bersembunyi.

Seorang misionaris seharusnya juga seorang yang beriman, yang tahu berdialog dengan Tuhan, tahu bertanya dan mencari tahu tentang kebenaran imannya sehingga ia benar-benar memiliki iman yang kokoh pada dasar yang sejati. Dia orang yang selalu berkata, “Aku percaya, tolonglah aku ang tidak percaya ini (Mrk. 9:24), atau “Tuhan, tambahkanlah iman kami” (Luk. 17:5).

3.2. Apa itu Kerendahan Hati

Perjanjian Lama memakai beberapa kata untuk mengungkapkan rendah hati. Ada tiga kata yang cukup sering dipakai. Pertama: ānāh (Inggris: be bowed down, afflicted, humble; BDB, 2000:776). Contoh: Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas” (Mzm. 116:10). Kedua: ānāw (Inggris: poor, afflicted, humble, meek; BDB, 2000: 776). Misalnya: Musa dipuji sebagai tokok Perjanjian Lama yang rendah hati: “Adapun Musa ialah seorang yang lembut hatinya (ānāw),” (Bil. 12:3). Ketiga: kāna (Inggris: make ashamed; pass, respect, regard, be ashamed, be made ashamed) (1 Raj. 21:29; 2 Taw. 12:7; 30:11; BDB, 2000:448).

Kedua kata yang pertama (ānāh dan kāna ) dalam bahasa Indonesia mempunyai beberapa kemungkinan terjemahan, seperti miskin, tertindas, tunduk, menderita, rendah hati, dan lemah lembut. Sedangkan kata yang ketiga (kāna) bisa diterjemahkan dengan merendahkan diri. Kata ini mengandung makna penghinaan di depan umum ddan makna rasa malu atau aib. Namun, semua kata yang disebutkan di atas mengandung makna dasar “tunduk” atau “takluk.” Ketaklaknnya ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

Ø Daya atau kuasa yang memaksa, entah itu kuasa seseorang atau kuasa Tuhan, yang sering memakai penderitaan, kemalangan atau penindasan untuk mendorong umat-Nya kembali kepada-Nya.
Ø Suatu daya yang keluar dari diri orang itu sendiri. Misalnya: orang merendahkan diri di hadapan Tuhan. “oleh karena sudah menyesal dan engkau merendahkan diri (kāna) di hadapan Tuhan pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kupikirkan terhadap tempat ini..., Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman Tuhan” (2 Raj. 22:9).
Ø Kemiskinan. Kemiskinan mengakibatkan seseorang (si miskin) ditaklukkan dan dikuasai oleh si kaya.
Dalam Perjanjian Baru kata yang biasa dipakai untuk kerendahan hati ialah kata praüs (lemah lembut: Inggris: meek) dan terutama kata tapeions (2 Kor. 7:6). Dalam bahasa Inggris kata tapeions diterjemahkan dengan humble, power and esteem of low position, lowly, poor, of humble circumstances, lacking confidence, meek and mild (TDNT: 1972:19; Bauer, 2000:804). Makna kata tapeions dalam bahasa Yunani agak berbeda dengan yang terdapat dalam Kitab Suci. Dalam budaya Yunani, tapeions mengandung makna negatif, yakni sesuatu yang memalukan. Hal ini mungkin karena dalam menilai sesuatu mereka memandang semuanya dari sudut manusia. Cara pandang yang demikian melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, dalam Kitab Suci, tapeions selalu mengandung makna positif kecuali dalam 2 Kor 10:1, Kol 2:18.23, karena penilaian terhadap sesuatu dibuat berdasarkan kaitannya dengan dengan Allah. Dalam hal ini kerendahan hati atau kehinaan dilihat sebagai sesuatu yang postif, karena itulah sikap dasar yang benar di hadapan Allah yang diimani sebagai pemberi segala sesuatu (Rahner, 1986:670).

Menarik bahwa kerendahan hati dikaitkan dengan kemiskinan bahkan dilihat sebagai sesuatu yang sinonim seperti tersirat dari kata ānî, ānāw (jamak: ānāwim) yang memiliki arti, baik rendah hati maupun miskin. Miskin di sini bukanlah miskin secara ekonomi dan kondisi sosial semata, melainkan juga miskin secara spiritual (Leon, 1988:436). Dengan kata lain, orang yang rendah hati adalah orang yang menyadari dirinya tidak berkecukupan. Kertidakberkecukupan ini mendorong dia untuk menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, Allah berpihak pada orang yan rendah hati atau miskin. Dia memberikan rahmat dan kasih-Nya kepada mereka (Ams. 3:34), serta menyelamatkan mereka (Mzm. 18:28: “karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas (rendah hati), tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan). Demikian orang miskin dipuji bukan karena ia hebat, melainkan karena ia menggantungkan diri pada Allah.

Kemiskinan membuat orang yang rendah hati sadar bahwa ia membutuhkan orang lain, terutama Allah. Dalam dirinya selalu ada ruang kosong, ada tempat untuk orang lain. Oleh karena itu, ia selalu siap sedia menerima orang lain atau masukan dari orang lain. Ia selalu terbuka untuk berdialog dan menerima pendapat dari orang lain dengan lemah lembut.
Iman dan kerendahan hati saling melengkapi. Keduanya memiliki nilai dasar yang sama, yaitu keduanya mengakui keberadaan Allah dan ketergantungannya pada Allah. Contoh sederhana misalnya: di mana letak perbedaan orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman, seringkali sulit dibedakan. Perbedaan esensialnya ada dalam cara mereka memandang sesuatu atau peristiwa. Misalnya: setelah berhasil melakukan karya besar, katakan saja ketika striker berhasil mencetak gol. Striker yang beriman akan melihat gol yang dicetaknya itu terjadi karena pertolongan Allah. Sebaliknya, yan tidak beriman melihat itu sebagai karyanya sendiri, hasil kerja kersanya semata-mata. Ketika melihat seorang pengemis, seorang beriman melihat Yesus yang miskin, sedang yang tidak beriman melihat kebobrokan pemerintah. Ketika melihat awan naik, orang beriman melihat Allah akan memberkati kita dengan hujan, sedang yang tidak beriman berkata, hujan akan turun. Demikian orang beriman memiliki kemampuan melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa dan mampu membaca tanda-tanda zaman dan menginterpretasikannya dalam terang Injil.

IV. Internalisasi Nilai-nilai Injili

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang beriman terutama kaum rohaniwan atau pun biarawan dari kalangan agama apa pun dapat terjerumus dalam bahaya formalisme agama. Mereka terkungkung dalam ritus-ritus yang kaku dan beragama pun lebih dilihat sebagai suatu upacara rutinitas daripada nilai yang harus dihidupi. Sikap yang demikian dapat jadi timbul dari paham atau gambaran seseorang akan Allah yang kurang tepat.
Alkitab memberikan kita banyak gambaran tentang Allah. Hal ini sesuai pula dengan beragamnya pengalaman manusia akan Allah ketika manusia berelasi dengan Allah. Namun menarik untuk disimak tiga gambaran akan Allah yang disaksikan oleh Alkitab. Menarik bahwa ketiga gambaran ini berkaitan dengan gunung.


1. Keluaran 19-20

Tempat: Gungung Sinai

Konteks: Dekalog

Musa naik turun gungung Siani untuk menjadi perantara antara Allah yang hendak mengadakan perjanjian dengan manusia (ay. 16-19).
· Guruh dan kilat dan awan padat di atas gungung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa.
· Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya.
· Dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat
· Bunyi sangkakala kian lama keras.
· Allah bicara dalam suasana menakutkan

2. 1 Raj. 18-19

Tempat: Gungung Horeb

Konteks: Elia lari dari Izabel

Elia vs Izabel, istri Ahab yang memiliki 450 nabi Baal dan 400 imam Ashera.

1. Elia menang vs nabi-nabi Baal. Semua nabi dibantai di Kison
2. Elia takut kepada Izabel dan melarikan diri
3. Ke Barsyeba: diberi roti dan aor oleh malaikat
Ke Horeb (Sinai): berdiri di atas gungung menanti Allah yang akan lewat.
· Angin besar dan kuat
· Gemuruh menggetarkan
· Gempa bumi
· Api
· Angin sepoi-sepoi basah
· Allah bicara tidak lagi dalam suasana menakutkan
· Perintah: Mendengarkan Dia dalam keheningan

3. Perjanjian Baru

Tempat: Gungung Tabor

Konteks: Transfigurasi Misa dan Elia berbicara dengan Yesus

Turunlah awan; dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia (Mat 17:3). Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu (Yoh 15:4). Allah bicara dalam suasana menyenangkan, bikin kekerasan.
Perintah: Terima Yesus sebagai anak terkasih dan dengarkan Dia

Konsep tentang Allah di Kel 19-20 tersirat dalam pandangan filosofis zaman rasionalisme abad ke-18 (misalnya: dualisme filosofis Rene Descartes) yang mempengaruhi spritualitas Barat yang seringkali kurang sinkron dengan spiritualitas Injili.

1. Spiritualitas Barat

A. Dualisme: Diri di luar diri Allah

Manusia dan Tuhan terpisah. Tuhan yang agung ada “di luar sana” dan manusia ada “di luar Tuhan.”

B. Akibat Dualisme: konsep negatif tentang TUHAN:

1. Tuhan di luar sana, di surga, mengamati manusia yang berjuang dan menderita di dunia
2. Tuhan penguasa dan hakim yang kejam, yang menghukum manusia dengan nyala api abadi tanpa kenal ampun
3. Polisi yang selalu mengawasi dan siap menangkap kita
4. Bapa yang pemarah
5. Menakutkan dan berbahaya

Tuhan mengganjar semua kebaikan sekarang dan kelak di surga. Misalnya: memberi sedekah akan diganjar dengan kekayaan materi (rumah bagus), tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, kesuksesan duniawi (profesi, bisnis, dll), cobaan-cobaan tidak akan menghalangi perjalanan hidup mereka.

C. Akibat pandangan negatif tentang Tuhan:

Ø Tindakan eksternal atau lahiriah lebih penting daripada tindakan internal atau batin
Ø Manusia memulai semua perbuatan baik dan Tuhan memberi ganjaran
Roh Kudus “tamu yang dilupakan.” Akibatnya, orang meninggalkan hidup dan pergi menjadi rahib. Pergi meninggalkan dunia, menyendiri, jadi rahib.

2. Spiritualitas Injili

A. Diri di dalam Allah

Manusia dan Tuhan satu: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu (Yoh. 15:4)

B. Akibat kesatuan ini: Konsep positif tentang TUHAN:

1. Allah adalah cinta
2. Tidak pernah menjanjikan ganjaran kesuksesan material (bdk. 8 sabda bahagia). Pahlawan sejati dalam Mazmur adalah orang yang jelas-jelas menderita demi Allah
3. Adanya kebutuhan mengolah kasih Tuhan di sini dan sekarang , dan bukan mengejar pahala masa depan atau jaminan masuk surga (menghindari hukuman Tuhan)
4. Tuhan akan mengurus masa depan kita, lebih percaya bahwa jika kita benar-benar menjalankan apa pun yang dapat dilakukan untuk mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama, Tuhan akan mengurus masa depan kita. Tuhan dapat ditemukan bukan di saat mendatang, tetapi sekarang
5. Motivasi atau dorongan batin jauh lebih penting daripada tindakan-tindakan lahiriah (hari sabat untuk manusia, Mrk. 2:27).
6. Allah yang memulai, karena Roh Kudus tinggal di dalam diri kita sebagai sumber inspirasi semua tindakan kita
7. Roh Kudus bukan hanya tamu terhormat tapi yang selalu diundang dan hadir. Menghidupi Injil dalam hidup sehari-hari

Seorang misionaris tidak cukup memahami Allah sebagai sesuatu yang menakutkan. Yang kami maksudkan dengan “menakutkan” di sini bukanlah seperti konsep taku akan Allah dalam Perjanjian Lama, yang sesungguhnya lebih berarti sikap hormat terhadap Allah dan taat kepada perintah-Nya. Ketakutan di sini mengacu ke emosi ketakutan yang cenderung mendorong orang tetap jauh dari Allah. Lawan ketakutan ialah kepercayaan yang tumbuh melalui upaya melayani Tuhan yang keluar dari cinta. Gambaran Allah yang menakutkan mungkin hanya cocok untuk mereka yang beriman di tahap awal, atau bagi para pemimpin yang kejam dan jahat, yang patut bertanggungjawab atas begitu banyak tindak kekerasan dan penindasan. Namun, ketika seorang penguasa kejam bertobat dan memulai perjalanan rohaninya, ketakutan seperti itu tidak ada gunanya, karena iman berkembang dalam kepercayaan yang tidak terhingga akan Tuhan.
Kesadaran bahwa Allah ada dalam dirinya dan dalam diri setiap orang, akan memungkinkan seorang misionaris melakukan dialog profetis yang mendalam, bukan basa basi atau sekadar untuk menghilangkan rasa takut.

V. Dialog Profetis Membawa Perubahan

Sebagai orang Yahudi pada jamannya, para murid kemungkinan besar menganut konsep keselamatan yang eksklusif. Bagi mereka, wanita Kanaan itu tidak berhak atas karya penyelamatan Yesus sang Mesias. Itulah sebabnya mereka merasa terganggu oleh teriakan wanita Kanaan yang meminta kesembuhan anaknya. Mereka tidak tahan dengan sikap Yesus yang membisu sehingga meminta Yesus untuk mengusirnya (ay. 23). Sikap Yesus yang mula-mula diam seperti tidak peduli dan kata-kata-Nya yang pedas di ayat 24 (Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel) dan di ayat 26 (Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing) adalah suatu bentuk pemakain etode retorik. Yesus memakai tehnik retorik ini secara jitu untuk membahrui pandangan yang yang kurang tepat. Diamnya Yesus secara ironis menampar diamnya para murid (Gereja awali) di hadapan rintihan orang-orang non Yahudi yang mau mendapatkan keselamatan. Ketidakpedulian seperti ini terutama diakibatkan oleh salahnya pengertian mereka tentang misi. Misi dilihat sebagai karya eksklusif, karya yang ditujukan hanya untuk kalangan sendiri. Ketika orang dari kelompok lain, klas lain, ras lain, budaya dan agama lain berteriak minta tolong, mereka tidak mengacuhkannya. Secara retoris, diamnya Yesus memberi kesempatan kepada para murid untuk mengungkapkan pandagan mereka yang sesat. Dengan begitu, Yesus pun akhirnya mendapatkan peluang yang tepat dan efektif untuk memperbaikinya.

Apa yang ditunggu ternyata datang: para murid mengungkapkan pandangannya. Lalu Matius dengan sangat hidup menunjukkan bagaimana Yesus mengubah pandangan mereka yang amat eksklusif tentang keselamatan. Mula-mula Yesus mengikuti dan sepertinya mengukuhkan pandangan eksklusif orang Yahudi jaman itu. Kata-kata “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ay. 26) sejalan dengan pesan-Nya ketika Ia mengutus para murid “ Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepaada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5-6; bdk. 9:36’ 18:12; Yer 50:6). Selain itu, ayat 26 semakin kuat menekankan pandangan serupa: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Orang Yahudi menganggap dirinya sebagai anak-anak Kerajaan Allah yang patut menerima keselamatan, sedangkan orang non Yahudi (perempuan Kanaan) dianggap sebagai anjing yang tidak pantas menerima apa yang si anak terima. Firman Tuhan bahwa keselamatan-Nya diperuntukkan bagi semua orang melalui orang Yahudi yang dipilih sebagai imam sepertinya dilupakan. Akibatnya, ungkapan “domba-domba yang hilang dari umat Israel” dimengerti sebagai mengacu kepada domba-domba sesat di antara orang-orang Israel. Akibatnya, pesan Yesus pun dimengerti seakan-akan Ia menghendaki hanya keselamatan orang Yahudi. Padahal, ungkapan itu dapat pula berarti bahwa seluruh orang Israel adalah domba-domba yang sesat.
Yesus mengangkat pandangan yang sesat itu untuk diperbaiki. Sebagai oran gYahudi pada jaman-Nya, bisa jadi Yesus pun terbawa oleh konsep umum yang berlaku saat itu. Namun, Ia tidak tenggelam dalam kesesakan itu. Sikap Yesus berbeda dengan sikap para murid. Dia tidak mengusir si wanita yang dianggap sebagai anjing, melainkan memandangnya sebagai pribadi dan mengajaknya berbicara sebagai partner dialog. Bahkan, akhirnya Ia memuji iman wanita itu dan menekankan bahwa keselamatan Allah juga diperuntukkan baginya. Demikian dialog dengan wanita Kanaan mengubah pandangan kurang akurat pada jaman itu, baik pandangan tentang wanita maupun terutama pandangan tentang keselamatan yang universal.

VI. Mencintai dan Mewartakan Kebenaran

Kepada Pilatus yang menginterogasi diri-Nya, Yesus antara lain berkata: “untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran: setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37). Seperti gurunya, seorang misionaris dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Untuk itu pertama-tama dia harus mencintai kebenaran.

Dewasa ini, terutama di Indonesia, bentuk yan gpaling nyata dari perlawanan terhadap kebenaran adalah korupsi di segala bidang. Berita tentang korupsi tiada hentinya menghiasi halaman surat kabar. Jika kita membuat litani korupsi, mungkin litaninya tidak akan pernah selesai. Korupsi adalah sebuah tindakan kejahatan, kekejaman yang membunuh integritas seseorang. Korupsi bukan sekedar tindakan kejahatan, tetapi perbuatan melawan kebenaran dan pengkhianatan terhadap kepercayaan. Korupsi telah membuat bangsa ini timpang dan perekonomian lumpuh, jenjang miskin kaya semakin dalam, dan kelestarian lingkungan semakin parah. Banyak usaha telah dibuat pemerintah, tetapi usaha mereka sepertinay setengah hati. Lebih menyakitkan, mereka yang harusnya berdiri paling depan untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan korupsi, justru terlibat dalam praktek korupsi. Kasus Irawady Jeonoes, anggota Komisi Yudisial, misalnya. Ia yang seharusnya menjaga akhlak para hakim, justru melakukan hal sebaliknya, dan akhirnya divonis delapan tahun penjara, karena terbukti menerima uang suap Rp. 600 juta, dan 30.000 dolar AS dari Freddy Santoso.

Halaman-halaman Alkitab pun telah penuh diisi oleh cerita korupsi. Sebut saja misalnya kejahatan anak-anak Eli (1 Sam. 2:11-26), Yudas yang menerima uang perak dari imam-imam kepala untuk menyerahkan Yesus (Mat. 26:14-16; par), dan imam-imam kepala yang memberikan sejumlah uang kepada serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus agar mereka berbohong (Mat. 28:11-15). Ketiga contoh di atas mebuka mata kita untuk menyadari bahwa tidak sepantasnya kita menuding pemerintah korupsi, melainkan elihat Gereja sendiri, bahkan biara sendiri sebagai institusi yang koruptif. Saatnya teriakan anti korupsi ditujukan bukan kepada pemerintah, atau para pejabatnya, tetapi kepada Gereja. Namun, lebih penting lagi, seorang misionaris yang dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kebenaran harus menyadari bahwa dia tidak bisa mengendalikan orang lain untuk tidak korupsi, tetapi ia mampu mengendalikan dirinya untuk tidak korupsi. Dia harus mulai dengna kesadaran akan dirinya sebagai yang dipanggil untuk memberi kesaksian akan kebanaran. Untuk itu ia akan mengembangkan cinta akan kebenaran dan akhirnya berani berkokok untuk mengajak orang lain melawan setiap bentuk perlawanan terhadap kebenaran.

VII. Kesimpulan

Diamnya Yesus di hadapan teriakan minta tolong wanita Kanaan merupakan kritik terhadap Gereja awali yang diam di hadapan rintihan orang non Yahudi yang mau mendapatkan keselamatan. Ketidakpedulian Gereja diakibatkan oleh salah pengertian salah pengertian tentang misi khususnya yang ekskulsif hanya untuk kalangannya sendiri. Ketika orang dari kelompok lain, klas lain, rasa lain, budaya dan agama lain berteriak minta tolong, mereka acuh. Kritik terhadap Gereja awali harus menjadi pecut bagi para misionaris untuk peduli dengan kelompok lain dan mengajak mereka berdialog. Dengan kata lain, dialog profetis perlu lahir dari rasa kepedulian akan keselamatan orang lain.

Kisah wanita Kanaan menunjukkan manfaat sebuah pertemuan dan dialog. Sebuah dialog mengubah partner yang berdialog. Di satu pihak, Yesus mengubah si wanita Kanaan, menyembuhkan anaknya, menyempurnakan konsepnya tentang Mesias dan menguatkan imannya. Namun, di lain pihak, pandangan Yesus sendiri (dan para murid) diubah oleh wanita Kanaan (Patte, 2000:49.52). Sebelum pertemuan, wanita Kanaan sudah memiliki konsep tentang Yesus, demikian juga para murid dan Yesus sudah mempunyai konsep tertentu tentang wanita asing. Pada akhir pertemuan pandangan mereka berubah.

Pertemua dan dialog Yesus dengan wanita Kanaan menghasilkan transformasi dalam pemahaman Yesus perihal misinya, yakni dari misi eksklusif bagi orang Yahudi ke misi universal. Yesus memahami bahwa pelayan-Nya paling tidak sebagian dibuka juga untuk orang kafir (non Yahudi). Prioritas memang bagi orang Yahudi, tetapi itu tidak berarti eksklusif hanya bagi mereka. Matius secara sangat hidup melukiskan perkembangan reaksi Yesus terhadap permohonan wanita Kanaan. Mula-mula Yesus bersikap tidak peduli, sehingga para murid mendesak-Nya untuk mengusir wanita itu. Selanjutnya Yesus menolak secara tersamar permintaa wanita itu dengan alasan misi-Nya hanya bagi orang Yahudi. Penolakan ini dikukuhkan dengan pernyataan bahwa orang asing dan perempuan dianggap bagaikan anjing yang tidak layak menerima pelayanan-Nya. Akhirnya, Yesus memuji iman wanita itu dan mengakui bahwa keselamatan juga bagi dia, meskipun prioritas bagi orang Israel. Bahkan bagi Yesus, orang non Yahudi bukan saja akan memperoleh keselamatan, melainkan juga dapat menjadi teladan pemuridan.

Sebuah dialog membutuhkan keterbukaan, kerendahan hati, iman yang dalam dan wawasan yang luas. Jawaban-jawaban wantia Kanaan atas pernyataan Yesus menunjukkan kepintaran, keterbukaan dan luasnya pandngannya. Namun, seperti yang dikatakan oleh Evans, apa yang penting di sini, bukanlah bahwa wantia itu pandai, melainkan bahwa Yesus berbicara dengannya dan akhirnya mengenal siapa wantia ini sebenarnya (Evans, 1983:52). Dengan kata lain, sebuah dialog profetis terjadi bila seorang misionaris berani keluar atau meninggalkan lingkungannya dan keamanannya sendiri untuk mulai berdialog dan mengenal orang lain.

Blasius Baene adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang



Bibliografi

Brown, F. – S.R. Driver – C. A. Briggs (disingkat BDB) (2000), A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, With an Appendix Containing the Biblical Aramic, Based on the Lexicon of William Gesensius, Massachusetts: Hendrikckson Publishers.

Bauer, Walter (2000), A Greek – English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, Based on W. Bauer’s Griechisch – Deutsches Wöterbich zu den Schriften des Neuen Testaments und der Frühchristlischen Literatur, tr, W.F. Arndt and F.W. Gingrich, Chicago: The University of Chicago Press

Cantalamessa, Runiero (2000), Gettate le Retti: Riflessioni sui Vangeli Anno C, Cassale Monferrato: Piemme

Davies, W.D. and Allison, D.C. (2004), Matthew, A Shorter Commentary based on the Three Volume ICC, T&T Clark International, London – New York.

Elliot, John Hall (1996), The Elect and the Holly, an exegetical examination of I Peter 2:4-10, Leiden: Brill

Evans, Mary J. (1983), Woman in the Bible, Exeter: The Paternoster Press

Foster, W. (1964), Palestinian, Judaism in the New Testament Times, Edinburgh: Oliver & Boyd

Haguer, D.A, (1995), Matthew 14-28, Dallas, Texas: WBC 33b

Hill, D. (1972), The Gospel of Matthew, New Century Bible Commentary, Marshal, Morgan & Scott, London

Hoppe, Lesile J. (1987), Being Poor, A Biblical Study, Good News Studies 20, Wilmington, Delaware: Michael Glazier

Jeremias, J. (1969), Jerusalem in the Time of Jesus, London: SCM

Kittel, Gerhard and Gehard Friedrich (1972), “ταπεινός” Theological Dictionary of the New Testament (disingkat TDNT), VIII, Grand Rapids, Michgan: WM. B. Bermands Publishing Company, 19-20

-------, (1964), “δέχομαι” Theological Dictionary of the New Testament, (disingkat TDNT), II, Grand Rapids, Michigan: WM. B. Bermands Publishing Company, 50-54

Léon-Dufour, Xavier (ed), (1988), “Humility,” Dictionary of Biblical Theology, London: Geoffrey Chapman, 247-248

-------, “Poor,” Dictionary of Biblical Theology, London: London: Geoffrey Chapman, 436-438

McKeating, M. (1973), “Jesus bin Sirach’s Attitude to Women,” Exp. T. 85

Meeks, W.A. (1974), The Image of the Androgyne, Hist. Rel. 13

Meynet, Roland, (2000), Vedi questa Donna? Saggio sulla Comnicazione per Mezze delle Parabole, Milano: Paoline

Moore, G.F. (1985), Judaism II, Cambridge, Mass, Harvard University Press

Moran, W. (1962), “A Kingdom of Priests,” in J.L. McKenzie (ed), The Bible in Current Catholic thought, New York: Harder and harder, 7-20

Mueller, Herman, (1985), Speak, Lord! Scriptural Notes and Thouhgts for Homilies Year C, Manila: Divine Word Publications

Patte, D. (2000), “The Canaanite Woman and Jesus: Surprising Models of Discipleship (Matt. 15:21-28),” in Kitzberger, Ingrid Rosa (ed), Transformative Encounters, Leiden: Brill, 23-53

Rahner, Karl (ed), (1986), “Humility,” Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi, Freiburg: Burns & Oates, 670-671

Scott, R.B.Y. (1950), “A Kingdom of Priests (Exod xix 6),” OTS 8, 213-219
Strack, H.L, dan Billerbeck, P. (1983), “Kommentar zum Neuen Testament aus Talmud und Midrash, München: C.H. Beck

[1] Tulisan ini merupakan makalah yang dipresentasikan oleh Dr. Paskalis Edwin, SVD dalam rangka memperingati 25 tahun Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang. Makalah ini dipresentasikan pada tanggal 31 Januari 2008 di Aula Magna Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang.

Selasa, 01 April 2008

Analisis Perbandingan Eklesiologi Kitab Didache dan Tradisi Apostolik Hipolitus dari Roma

Oleh: Blasius Baene

I. Pendahuluan

Salah satu persoalan yang seringkali dihadapi oleh Gereja khususnya Gereja Katolik adalah pertanyaan mengenai kebenaran sumber-sumber iman yang dihayati oleh Gereja Katolik. Pertanyaan seperti ini, kerapkali menjadi bahan diskusi baik dalam kalangan jemaat Katolik sendiri maupun di luar jemaat Katolik. Apa yang dipertanyakan adalah berkaitan dengan keabsahan/keaslian sumber-sumber iman yang dihayati oleh Gereja Katolik. Bahkan dari kalangan Protestan sendiri mengajukan sebuah pernyataan kritis dengan mengatakan “back to the Bible”1 artinya kembali kepada Kitab Suci. Dengan kata lain, pernyataan kritis seperti ini mengundang Gereja Katolik untuk melihat kembali teks-teks Kitab Suci sebagai sumber iman yang utama. Kritik ini diajukan berkaitan dengan kepercayaan kaum Protestan yang berpusat pada “Sola Scriptura” artinya satu-satunya sumber kebenaran iman adalah Kitab Suci. Berbeda dengan Gereja Katolik, yang mengakui di samping “Sola Scriptura” sebagai sumber iman, juga “Sola Fidei dan Sola Gratia” diakui sebagai sumber kebenaran iman.
Oleh karena itu, melalui kedua tradisi yang saya bahas dalam paper ini, yaitu tradisi apostolik Hipolitus dari Roma dan kitab Didache, saya akan melihat bagaimana kedua tradisi ini menghadirkan warisan para rasul sebagai sumber kebenaran iman. Selain itu, saya juga akan membahas bagaimana kedua teks ini menampilkan struktur jemaat dan konsep Gereja.

II. Asal-usul Kitab Didache dan Tradisi Apostolik

Kitab Didache dan tradisi apostolik adalah dua tradisi yang muncul pada abad yang berbeda. Kitab Didache muncul pada abad kedua setelah sejarawan Gereja yang bernama Eusebius dari Kaisarea (265-340) dan seorang Bapak Gereja yang bernama Athanasius dari Antiokhia (296-373)2 menulis bahwa ada sebuah kitab yang bernama Didache (Pengajaran) ton Dodeka Apostolon (Dua belas Rasul) atau Pengajaran Dua belas Rasul. Secara historis, penulis kitab Didache dan daerah asal penulisannya tidak diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan bahwa kitab Didache kemungkinan berasal dari daerah Siria dan Mesir karena tulisan mengenai kitab ini sangat terkenal penggunaannya di Mesir. Dugaan lain adalah bahwa kitab Didache diperkirakan berasal dari pertengahan abad pertama mengingat ada indikasi penulisan mengenai bagaimana Gereja mengelola diri dan juga ketidakmengetahuan penulis kitab Didache atas kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 M.
Beralih dari asal usul kitab Didache, tradisi apostolik muncul pada abad ketiga. Tradisi ini berasal dari Hipolitus dari Roma pada tahun 215. Dia adalah seorang imam dari Gereja Roma. Dalam hidupnya, ia banyak menghadapi tantangan terutama pengaruh teman-temannya yang merasa anti terhadap Paus. Pada zaman Paus Pontianus, dia dan Pontinus dibuang ke Sardinia dan pada tahun 325 sebelum ia mati, Hipolitus berdamai dengan uskup Roma. Hal ini disebabkan oleh karena dirinya merasa anti Paus akibat pengaruh dari teman-temannya seperti: Zeprinus dan Callitus yang anti terhadap Paus. Hipolitus mati sebagai Martir di Roma.

2.1. Pengertian Kitab Didache

Kitab Didache merupakan sebuah dokumen yang berisikan tentang ajaran Bapak-bapak rasuli atau lebih tepatnya “Pengajaran Tuhan melalui Dua Belas Rasul kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.” Sangat dimungkinkan bahwa materi yang ada dalam kitab Didache, berasal dari para murid dan rasul Kristus sendiri sedangkan beberapa tulisan lainnya diperkirakan berasal dari tradisi Yudaisme yang digabung menjadi satu sehingga terbentuk menjadi sebuah kitab.3 Apa yang tertulis dalam kitab Didache dianggap sebagai sebuah karya/pengajaran yang berwibawa oleh karena isi kitab Didache ini merupakan sebuah kumpulan tulisan yang ditulis oleh Bapak-bapak rasuli yang secara khusus mengenal satu atau lebih dari murid-murid Kristus. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Bapak-bapak rasuli ini adalah para penulis yang mendapatkan pengajaran langsung dari para rasul atau murid-murid para rasul Kristus.4 Oleh karena itu, berdasarkan keterangan ini beberapa sarjana melihat bahwa kitab Didache ditulis pada tahun 50 M bersamaan dengan penulisan surat rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika.5 Dengan demikian, dapat kita menganalisa bahwa sangat masuk akal jika penulis kitab Didache ini adalah orang-orang yang mengenal dan langsung mendapatkan pengajaran dari para rasul atau murid-murid para rasul Kristus. Setelah diteliti dan dipahami secara mendalam oleh para sarjana dan para teolog, akhirnya karya bapak-bapak rasuli ini ditetapkan di dalamnya ada 8 kitab.6 Salah satu dari 8 kitab itu adalah “kitab Didache.”

2.2. Tradisi Apostolik

Tradisi apostolik Hipolitus dari Roma merupakan sebuah tradisi yang menghadirkan tradisi Gereja terutama berbagai tata cara ritual yang dilakukan oleh Gereja sesuai dengan ajaran para rasul. Misalnya: tata cara pentahbisan seorang uskup, pembaptisan dan lain sebagainya. Selain itu, tradisi apostolik ini juag menghdirkan bagaimana struktur jemaat dalam Gereja sebagaimana para rasul juga membentuk struktur jemaat di mana para rasul sendiri menjadi kepala jemaat. Oleh karena itu, sejauh saya pahami tradisi ini, maka saya akan membaginya dalam tiga bagian, yakni: tradisi tentang upacara pentahbisan seorang uskup, hidup keluarga, dan upacara pembaptisan para katekumenat.

2.1. Kitab Didache: Sebuah Studi tentang Iman Gereja

Untuk memahami kitab Didache sebagai sumber iman Gereja, pertama-tama harus dipahami apa itu studi Patristik dan studi Patrologi, karena hanya melalui kedua istilah ini, kita dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan dalam kitab Didache kepada kita.
Studi patristik dan studi patrologi adalah dua istilah yang berbeda, karena keduanya memiliki pengertian dan objek tersendiri dalam memahami iman Gereja. Studi patristik merupakan sebuah studi tentang teologi yang ditulis oleh Bapak-bapak Gereja, artinya studi patristik mempelajari bagaimana cara untuk memahami pemikiran teologis Bapak-bapak Gereja yang menyelesaikan persoalan iman pada zamannya. Sebaliknya, studi patrologi merupakan studi yang lebih menekankan pemahaman terhadap historisitas literer dari teks-teks tulisan purba.7 Untuk memahami teks-teks purba yang bersifat historis ini, para peneliti studi patrologi harus mengenal apa maksud dan tujuan dari penulisan-penulisan teks tersebut. Oleh karena itu, mereka yang menggeluti dunia patrologi adalah orang-orang yang memiliki keahlian sekaligus bekerja di luar tubuh Gereja, seperti sejarawan, pengajar, dan lain sebagainya. Sedangkan studi patristik digeluti oleh mereka yang bekerja dalam tubuh Gereja, seperti para rohaniwan, karena mereka mengakui tulisan Bapak-bapak Gereja ini sebagai sebuah warisan kekayaan Gereja yang harus diakui dan dicintai kewibawaannya.

2.2. Tradisi Apostolik: Sebuah Studi tentang Iman Gereja

Sebagaimana kitab Didache diterima sebagai sumber kebenaran iman Gereja, demikian pula tradisi apostolik diterima dan diakui sebagai sumber kebenaran iman Gereja, karena keseluruhan tradisi ini memperlihatkan dengan jelas nuansa pokok-pokok iman Gereja yang dianggap sebagai warisan dari para rasul, sehingga sampai pada abad ketiga warisan itu terus menerus dihayati dalam kehidupan jemaat. Misalnya: dalam upacara pentahbisan uskup. Seorang uskup akan menumpangkan tangannya ke atas uskup yang tertahbis untuk menjadi uskup. Pada saat uskup menumpangkan tangannya, ia berdoa untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan dan memohon turunnya Roh Kudus atas uskup yang tertahbis. Selain berdoa untuk memohon datangnya Roh Kudus, umat juga diajak untuk ambil bagian di dalam perayaan itu untuk berdoa kepada Tuhan memohon datangnya Roh Kudus8 atas uskup yang tertahbis. Puncak dari pentahbisan ini terletak dalam perayaan ekaristi sebagai puncak iman Gereja di mana di dalamnya dirayakan misteri keselamatan lewat tubuh dan darah Kristus sendiri sebagai kurban.

III. Analisa Isi

3.1. Analisa Isi Kitab Didache

Pada dasarnya kitab Didache dianggap sebagai sebuah kitab tertua di luar ke-27 kitab yang telah dikanonkan sebagai kitab Perjanjian Baru. Terhadap analisa isi kitab Didache, pertama-tama harus dikatakan bahwa tulisan-tulisan yang terdapat dalam kitab Didache sebagian besar memiliki paralelisme dengan Injil Matius. Tetapi, sebaliknya dikatakan bahwa apa yang ada dalam kitab Didache tidak terdapat dalam Injil Markus sebagai Injil tertua menurut kebanyakan para ahli. Padahal dalam kenyataannya, sebagian besar isi Injil Matius berasal dari Injil Markus. Selanjutnya, kitab Didache sebagai pengajaran Tuhan melalui Dua Belas rasul diperkirakan sebagai hasil karya tangan Barnabas, karena ada anggapan bahwa kitab Didache pasal 1-6 memiliki paralelisme yang mirip dengan surat Barnabas pasal 18-20.8 Selanjutnya, dalam kitab Didache ini ditemukan bahwa beberapa ajaran yang berkaitan dengan moral, teologi, liturgi, cara untuk menentukan mana rasul dan mana nabi yang asli dan palsu, serta cara mengatur jemaat pada abad pertama kekristenan.9
Dalam memahami bagaimana isi kitab Didache secara keseluruhan, maka pada bagian ini saya mencoba menguraikan isi kitab Didache sesuai dengan bagian-bagiannya. Kitab Didache sendiri terdiri atas 16 pasal10 dan dibagi dalam empat bagian, antara lain: Pertama, bahan katekisasi moral dalam bentuk ajaran “Dua Jalan.” Kedua: instruksi liturgi mengenai baptisan, puasa, doa, ekaristi, peran para Episkope dan Diaken. Ketiga: ajaran tentang ibadah hari Minggu. Keempat: ajaran tentang akhir zaman.11

3.1.1. Bahan tentang Katekisasi Moral dalam bentuk ajaran “Dua Jalan”

Ajaran pertama tentang katekisasi moral dalam bentuk ajaran “Dua Jalan” terangkum dalam kitab Didache pasal 1-5 sebagai sebuah kumpulan instruksi moral Yudaisme yang diadopsi oleh orang-orang non-Yahudi yang hendak dibaptis dalam iman Kristen. Instruksi ini dikenal dengan nama “Dua Jalan.” Kedua jalan yang dimaksud di sini adalah “Jalan Kehidupan” dan “Jalan Kematian.” Kedua jalan ini merupakan sebuah ajaran mulia sejak zaman kuno, bahkan ajaran ini dapat dibandingkan dengan pesan kitab Didache dalam teks-teks PL (Ul 30:19; Yer 21:8) dan PB (Mat 7:13-13). Jalan ini juga dapat ditemukan dalam surat Barnabas ayat 18:1-21:912.
Apa yang disebut sebagai jalan kehidupan seluruhnya berisikan tentang ajaran cinta kasih, larangan-larangan, dan beberapa hukum lain yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ajaran tentang cinta kasih yang terdapat dalam kitab Didache sebagian besar memiliki paralelisme dalam Injil Matius khususnya ajaran tentang khotbah di bukit. Sedangkan ajaran yang berisikan tentang larangan sebagian besar paralel dengan teks-teks PL seperti jangan membunuh, jangan berzinah dan lain sebagainya.13 Sebaliknya, ajaran tentang jalan kematian berisikan tentang perbuatan-perbuatan yang megarah kepada sikap kejahatan, seperti percabulan, penyembahan berhala, pembunuhan, perzinahan, kesombongan, kemunafikan dan lain sebagainya.14

3.1.2. Instruksi mengenai Baptisan, Puasa, Doa, Ekaristi, peran Episkope dan Diaken

Salah satu isi pokok yang penting dari tata cara pembaptisan dalam kitab Didache adalah bahwa seseorang yang dibaptis haruslah dibaptis dalam nama sang Bapa, dan sang Putra, dan sang Roh Kudus. Rumusan seperti ini juga dapat kita temukan dalam Injil Matius sebagaimana Yesus amanatkan kepada para rasul untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid-Ku. Orang yang dibaptis harus dibaptis dalam air yang mengalir. Kemudian, mengenai puasa dan doa15, dikatakan bahwa hendaklah setiap orang berpuasa dan berdoa tidak seperti orang munafik, tetapi sebaliknya berpuasa dan berdoalah sebagaimana Tuhan perintahkan dalam injil-Nya. Selanjutnya, dalam perayaan ekaristi, ada dua hal yang penting, yakni mengucap syukur atas “cawan dan roti.” Mengucap syukur berarti mensyukuri rahmat Tuhan yang Dia berikan kepada umat-Nya. Mengenai para Episkope dan Diaken16, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang Episkope dan Diaken, yaitu dia adalah seorang laki-laki yang lembut hati, tidak tamak, jujur, dan teruji.

3.1.3. Ajaran tentang Ibadat Hari Minggu

Kitab Didache juga mengajarkan bagaimana sikap yang harus dilakukan oleh jemaat pada hari Minggu. Didache mengajarkan bahwa pada hari Minggu, jemaat diajak untuk berkumpul bersama, memecahkan roti dan mengucapkan syukur kepada Tuhan, serta mengakui dosa dan pelanggaran yang telah dilakukan. Oleh karena itu, setiap orang tidak dibiarkan untuk berseteru dengan sesamanya yang datang berkumpul dalam pertemuan jemaat itu.

3.1.4. Ajaran tentang akhir Zaman

Ajaran tentang akhir zaman dalam kitab Didache dapat kita bandingkan dengan apa yang terdapat dalam Injil Matius. Didache melihat bahwa pada akhir zaman hendaknya setiap orang berjaga-jaga, bersiapsiaga, dan lain sebagainya untuk mengetahui saat kedatangan Tuhan, sebab pada akhir zaman, para nabi palsu dan penyesat akan berlipat ganda banyaknya dan anak domba berubah menjadi serigala dan kasih menjadi kebencian. Secara umum apa yang diajarkan tentang akhir zaman dalam kitab Didache, sebagian besar dapat kita temukan dalam teks-teks PB dan juga beberap teks PL.
Hal lain yang diajarkan dalam kitab Didache adalah ajaran tentang pengajaran palsu dan mengenai makanan (pasal 6), ajaran tentang Pengajar, Rasul, dan Nabi (pasal11),17 dan ajaran tentang bagaimana hal menerima orang Kristen. Hal yang sangat ditekankan dalam menerima orang Kristen adalah menerima setiap orang yang datang dalam nama Tuhan.

3.2. Analisa Isi Tradisi Apostolik Hipolitus dari Roma

Setelah memahami apa yang disampaikan dalam tradisi apostolik Hipolitus dari Roma, maka untuk melihat bagaimana isi tradisi ini secara keseluruhan, menurut saya tradisi ini dibagi dalam tiga bagian, antara lain:

3.2.1. Tata Pemilihan dan Upacara Pentahbisan Uskup dan Diakon (TA 1-9)

Bagia pertama dari ajaran Hipolitus adalah soal tata cara pemilihan seorang uskup dan diakon. Seorang calon uskup tertahbis menurut tradisi Hipolitus adalah seseorang yang tidak bercela dan merupakan pilihan seluruh jemaat. Pada saat upacara pentahbisan calon uskup, semua uskup yang hadir akan menumpangkan tangan ke atas calon uskup tertahbis, sedangkan umat diajak untuk berdoa memohon rahmat turunnya Roh Kudus ke atas uskup tertahbis. Salah seorang dari uskup yang hadir akan mengucapkan doa dengan mengatakan “Allah Bapa, Tuhan kami Yesus Kristus, melalui Gereja suci-Mu, Engkau telah memilih hamba-Mu ini untuk menjadi uskup. Curahkanlah Roh ilahi-Mu kepada hamba-Mu ini untuk menggembalakan kawanan domba-domba-Mu. Demi Yesus Kristus Putera-Mu, bersama Bapa dan Roh Kudus, dalam Gereja kudus, sekarang dan sepanjang segala abad. Amin. Setelah itu, uskup berdialog dengan umat untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan (bdk. TA 4:1-13). Kemudian, uskup yang tertahbis akan memberkati persembahan dengan mengatakan: bagi-Mu kemuliaan, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, bersama Gereja suci-Mu, sekarang dan selalu dan sepanjang segala abad, amin (bdk. TA 5-7).
Selain pemilihan uskup, Hipolitus juga melihat bagaimana tata cara pemilihan seorang diakon. Dalam pantahbisan diakon, ia mengatakan bahwa hanya uskup yang dapat menumpangkan tangan ke atas diakon tertahbis, karena diakon tidak ditahbiskan untuk menjadi seorang imam melainkan untuk melayani dan membantu uskup. Oleh karena itu, ia bukan bagian dari dewan klerus, tetapi apa yang dipercayakan kepadanya berada di bawah otoritas uskup, sehingga hanya uskuplah yang dapat mengangkat seseorang menjadi diakon (bdk. TA 8:1-12). Satu hal yang penting dalam seluruh peristiwa ini adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan lewat doa-doa atas karya tangan-Nya dalam diri setiap orang yang terpilih menjadi hamba-Nya (bdk. TA 9:1-5).

3.2.2. Kehidupan Keluarga (TA 10-16)

Bagian kedua dari tadisi aostolik Hipolitus khusunya pasal 10-16 berbicara tentang kehidupan keluarga secara khusus kehidupan seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya dan kehidupan para budak. Pertama, bahwa seorang janda tidak ditahbiskan melainkan dalam tugas kegerejaan ia dipilih/disahkan oleh penatua. Seorang janda tidak mempunyai tanggung jawab apa-apa dalam Gereja, tetapi dia mempunyai kewajiban dalam liturgi, karena kewajiban liturgi merupakan kewajiban untuk semua orang (bdk. TA 11:1-5).
Kedua: orang yang baru masuk dalam agama Kristen, mereka akan ditanyakan alasan apa yang membuat mereka beriman kepada Kristus. Mereka juga ditanyakan bagaimana sikap hidup mereka, status perkawinan mereka, pekerjaan-pekerjaan mereka, dan kedudukan atau jabatan mereka. Jika mereka adalah budak yang beriman, maka mereka akan diizinkan untuk mendengarkan sabda, tetapi jika mereka adalah seorang pendukung praktek prostitusi, seorang pelacur, seorang gundik, dan lain sebagainya, maka mereka itu akan ditolak (bdk TA 15-16).

3.2.3. Kehidupan para Katekumen (TA 17-43)

Hipolitus sangat mengamati bagaimana kehidupan para katekumen sebagai bagian dari kehidupan menggereja. Ia melihat bahwa para katekumen tidak cukup hanya mendapat bimbingan dalam waktu satu atau dua bulan untuk mengenal Kristus. Menurut Hipolitus, para katekumen yang ingin mengenal Kristus harus menerima bimbingan selama tiga tahun. Selama berlangsung pengajaran, para katekumen selalu diajak untuk berdoa sampai matang, sehingga secara batin mereka siap untuk menerima baptisan dan menjadi anggota Gereja. Pada hari sabat, mereka yang menerima baptisan akan berkumpul dalam satu tempat untuk berdoa bersama dan di sana uskup akan menumpangkan tangan ke atas mereka untuk melepaskan mereka dari segala roh-roh jahat yang mengganggu kehidupan mereka. Pada waktu pembaptisan, uskup akan mendoakan minyak syukur yang ada dalam bejana. Pada saat itu pula, ada dua orang diakon yang membantu uskup berdiri di sebelah kiri dan kanan sambil memegang minyak masing-masing. Setelah itu, uskup akan meminyaki mereka dengan minyak pembebasan dari roh-roh jahat. Setiap orang yang dibaptis akan turun ke dalam air. Dalam pembaptisan itu juga terjadi dialog antara yang membaptis dengan yang dibaptis berkaitan dengan iman kepercayaan kristiani, khusunya tentang syahadat iman (bdk TA 21:1-40).
Upacara pembaptisan para katekumen disatukan dalam perayaan ekaristi sebagai puncak iman orang beriman akan kehadiran Kristus. Dalam perayaan ekaristi itu akan dirayakan misteri keselamatan Kristus dan cinta Allah kepada manusia, secara khusus para katekumen yang lahir menjadi manusia baru dalam Kristus. Dalam perayaan ekaristi mereka akan disatukan bersama dengan Kristus sendiri.

IV. Konsep Gereja dalam menurut Kitab Didache dan Tradisi Apostolik

Dalam memahami bagaimana konsep Gereja dalam kitab Didache dan tradisi apostolik Hipolitus dari Roma, saya melihat bahwa ada beberapa konsep Gereja dalam kedua tradisi ini. Konsep Gereja itu adalah:

4.1. Gereja sebagai Communio

Baik kitab Didache maupun tradisi apostolik Hipolitus tidak terlalu memperlihatkan cirikhas Gereja sebagai sebuah communio. Namun, jika kita menelusuri lebih jauh kedua tradisi ini, maka kita akan menemukan bahwa kedua tradisi ini menampilkan sosok Gereja sebagai sebuah communio yang mempersatukan umat beriman. Misalnya, dalam perayaan ekaristi, baik kitab Didache maupun tradisi apostolik Hipolitus, tampak bahwa melalui perayaan ekaristi umat bersatu dan berkumpul dalam Gereja untuk merayakan secara bersama-sama misteri agung keselamatan Kristus. Melalui Gereja, mereka membentuk sebuah communio yang berdasarkan pada kehadiran Allah. Gereja membangun jemaat menjadi satu komunitas yang beriman kepada Tuhan.

4.2. Gereja sebagai Rahmat Keselamatan

Gereja tidak cukup hanya sebagai communio, tetapi juga harus dikatakan bahwa Gereja adalah pusat keselamatan hidup jemaat. Berkat wafat dan kebangkitan Kristus, Gereja sungguh-sungguh dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga melalui Roh Kudus itu Gereja turut mewartakan bahwa Gereja adalah pusat keselamatan manusia. Dan hal ini tampak dalam kedua tradisi yang ada, baik Didache maupun tradisi apostolik Hipolitus dari Roma. Hipolitus sendiri melihat Gereja sebagai rahmat keselamatan lewat Roh yang berkarya dalam hidup jemaat. Sedangkan kitab Didache melihat Gereja sebagai keselamatan lewat pemecahan roti di mana umat berkumpul untuk merayakan misteri kebangkitan Kristus.

4.3. Gereja sebagai pusat perayaan Iman

Gereja bukan hanya sebagai communio dan keselamatan, tetapi yang lebih penting adalah bahwa Gereja adalah pusat perayaan iman. Melalui perayaan ekaristi dan doa-doa yang dirayakan dalam Gereja, jemaat yang berkumpul merayakan misteri iman mereka kepada Tuhan. Baik dalam kitab Didache maupun dalam tradisi apostolik, dimensi Gereja sebagai perayaan iman dapat dilihat dalam perjamuan ekaristi sebagai ungkapan syukur, ungkapan iman dan ungkapan kesatuan dengan Kristus.

V. Penutup/kesimpulan

Setelah mempelajari kitab Didache dan tradisi apostolik, apa yang dapat disimpulkan? Saya melihat bahwa ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai kesimpulan. Pertama: Kitab Didache dan tradisi apostolik memberikan sebuah pemahaman baru kepada kita berkaitan dengan sumber-sumber kebenaran iman yang kita imani. Kedua: melalui kedua tradisi ini kita dapat melihat bagaimana bentuk Gereja sebagai sebuah communio, keselamatan, dan sebagai pusat perayaan iman akan Allah. Kitab Didache dan tradisi apostolik menghadirkan pada kita bentuk eklesiologi yang berpusat pada Allah sebagai dasar iman Gereja.

Blasius Baene adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang
Catatan-catatan kaki
1 D, hal. 3.
2 D, hal. 19.
3 D, hal. 12.
4 D, hal. 19.
5 D, hal. 4 dan 20.
6 D, hal. 2 dan 11.Yang termasuk dalam karya Bapak-bapak Rasuli adalah: Kitab Didache, surat Barnabas, surat Ignatius dari Antiokhia, surat Klemen dari Roma, surat dan kisah kemartiran Polikarpus dari Smirna, Kitab gembala Hermas, Fragmen tulisan papias dari Hieropolis, dan surat kepada Diognetus.
7 D, hal. 3.
8 TA, 1:1, hal. 1.
8 D, hal. 13.
9 D, hal. 28.
10 D, hal. 29.
11 D, hal. 12.
12 Bdk. Catatan kaki kitab Didache, D, 1:1, hal. 30.
13 D, 1:2-4, hal. 31-34.
14 D, 5:1-2, hal. 38-39. Mengenai jalan kematian ini, dapat dibandingkan dengan Injil Mat 15:19, Rm 1:29, Gal 5:20. Dapat dibandingkan dengan teks Didache 5:1 dengan teks Barnabas 20:1.
15 Doa yang diajarkan di sini adalah doa Bapa Kami yang diajarkan olewh Tuhan sendiri kepada para rasul.
16 Episkope adalah terjemahan dari kata Yunani “Episkopos” yaitu “Pengawas” atau dalam tradisi Gereja Katolik disebut sebagai “Uskup.” Sedangkan Diaken adalah terjemahan dari kata Yunani “Diakonia” yang berarti “Pelayan.”
17 D, 11:1-12, hal. 46-48. Rasul atau Apostolos dalah seseorang yang diutus. Nabi atau Propheteis adalah seseorang yang memiliki wahyu penglihatan dan pendengaran ilahi dan menyampaikan apa yang dia lihat dan didengarnya itu kepada orang lain